Video Of Day

ads

Selayang Pandang

Belitong Ada Tari Mancak, Adat Bangka Juga Punya Tarian Pencak, Keduanya Sama-sama Pakai Pedang


PETABELITUNG.COM - Pada zaman dulu Belitong memiliki tari Mancak yaitu tarian dengan dua orang lelaki yang saling beradu gerak menggunakan pedang. Catatan tentang tari Mancak Belitong ditemukan dalam sejumlah literatur era kolonial pada abad 19. Kalian bisa membaca artikel sebelumnya berjudul Telusuri Tari Mancak Belitong yang Punah, dari Alam Minangkabau Sampai ke Pulau Selayar di Sulawesi Selatan.

Bila di Belitong ada tari Mancak, maka dalam adat Bangka ternyata dikenal tarian Pencak. Hal ini diketahui dalam sebuah keterangan di buku profil Provinsi Sumatera Selatan tahun 1953. Dalam bab berjudul "Adat istiadat penduduk di Bangka" terdapat satu sub judul 'Adat tarian-tarian penduduk asli'. Dalam sub judul itu terdapat daftar kesenian yang salah satunya disebut pencak.

Berdasarkan deskripsinya, Mancak Belitong dan Pencak Bangka tampak memiliki sejumlah kesamaan. Antara lain kesamaan itu tampak pada alat tariannya, yakni yang sama-sama menggunakan pedang dan fungsi tariannya sebagai pementasan menyabut tamu.Simak kutipannya berikut ini :

"Selain dari pada kesenian tari-tarian ada juga kesenian lain yaitu dinamakan pencak. Pencak ini ada dua macam, yaitu pencak biasa dan pencak pedidi.

Pencak pedidi, melakukannya dengan duduk saja dan seolah-olah menari.

Pencak biasa dilakukan sambil berdiri seperti keadaannya di daerah lain. Pencak pedidi adalah sebagai kembang dari pencak biasa. Yaitu dilakukan sebermula (sebelum pencak biasa dimulai). Tarinya merupakan kembang pencak yang akan dilakukan, sembari membawa pedang yang mengkilap untuk diserahkan kepada orang-orang yang berada di pinggir lingkaran tempat mengadakan pencak tersebut. Orang yang diserahi pedang ini oleh penari pencak tadi mesti melakukan pencak. Oleh sebab itu pada zaman dahulu tidak ada seorang tua di Bangka yang tidak mengenal pencak. Karena takut malu kalau diminta pencak di tengah orang ramai.

Menurut adat, sejak masa dahulu pencak tersebut dilakukan, adalah untuk menyambut kedatangan demang ataupun Tamu Agung lainnya yang disambut menurut adat asli. Juga hal-hal semacam itu masih saja dilakukan di desa-desa sampai sekarang, jika ada Tamu Agung yang datang ke tempat mereka."


Dalam buku ini juga terdapat bab berjudul 'Perkembangan seni ukir dan pencak' yang menggambarkan kesenian itu secara khusus di wilayah Palembang. Disebutkan bahwa pencak atau silat Palembang berbeda jauh dengan pencak Minangkabau dan Tionghoa. Selain itu irama pencak juga disebut berbeda dari irama tari. Irama tari lebih condong menunjukkan kehalusan gerak gerik. Sedangkan pencak lebih banyak menggambarkan ketangkasan dan kepahlawanan.

"Pentingnya seni pencak tidak dapat dipandang kecil. Terutama apabila kita hubungkan dengan pentingnya kecakapan memainkan senjata tajam bagi angkatan perang. Menurut sejarah, pencak Palembang, memang diajarkan pada masa yang silam itu untuk dijadikan salah satu senjata pertahanan yang tidak terlihat," demikian keterangan dalam buku tersebut. Semoga bermanfaat.(*)

Penulis : Wahyu Kurniawan

Editor : Wahyu Kurniawan

Sumber : Petabelitung.com.

Foto ilustrasi : Siluet atraksi kesenian Beripat dalam festival Titik Temu yang diselenggarakan di Pantai Gusong Bugis, Desa Juru Seberangm 2019. Wahyu Kurniawan.