Video Of Day

ads

Selayang Pandang

Menelusuri Jalur Rempah Belitung, Dari Tidore Sampai Akhirnya Terhubung ke Iran dan Azerbaijan

PETABELITUNG.COM - Hiruk pikuk jalur rempah tak pelak membuat kami bertindak. Bagaimana keterkaitan Pulau Belitung dan sejauh apa peranannya?

Kata kunci pertama yang dipilih adalah Tidore. Ya. Pulau ini sekarang menjadi wilayah Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara. 

"Kota ini sudah terkenal sejak zaman penjajahan dahulu karena cengkih dan pala. Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Tidore adalah pelaut dari Spanyol yang sampai ke Tidore tahun 1512," demikian keterangan dari website resmi Pemkot Tidore Kepulauan.

Pencarian kemudian tertuju pada sejarah Kesultanan Tidore. Setelah dibaca, ternyata ada satu kata kunci yang menarik perhatian, yakni Rum. Ya, saat ini Rum adalah nama sebuah keluarahan di Kecamatan Tidore Utara. Jauh sebelumnya, Rum pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Tidore pada masa Sultan Mansur.

"Ketika Sultan Mansur naik tahta tahun 1512 M, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai," 

Demikian kutipan dari karya ilmiah berjudul Pembagian Fungsi Kawasan Kerajaan Tidore Berdasarkan Kearifan Lokal (Pada Masa Pemerintahan Sultan Saifuddin) karya Endah Harisun. Tulisan ini dimuat dalam buku Seminar Nasional Arsitektur Nusantara yang diterbitkan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Khairun Universitas Khairun.

Nama Rum sepertinya memiliki kaitan dengan Belitung. Namun sebelum melihat kaitannya, kita lanjut sedikit ke toponimi Tidore ya. 

Nama Tidore ternyata berasal daru dua rangkaian kata dalam bahasa Tidore dan Arab dialek Irak. Dalam Bahasa Tidore, To ado re, artinya, ‘aku telah sampai’. Sedangkan dalam bahasa Arab dialek Irak anta thadore yang berarti ‘kamu datang’.

Penggabungan dua kata dari dua bahasa ini berawal dari suatu peristiwa yang terjadi di Tidore. Dalam kisahnya disebutkan bahwa dulu di Tidore sering terjadi pertikaian antar para Momole (kepala suku). Pertikaian terjadi akibat perebutan wilayah kekuasaan persukuan. Usaha perdamaian acap kali gagal sehingga kemudian sering menimbulkan pertumpahan darah.

Sampai pada satu ketika, sekitar tahun 846 Masehi datang rombongan Ibnu Chardazabah, utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad. Singkat kata, salah seorang anggota rombongan Ibnu Chardazabah, bernama Syech Yakub turun tangan memfasilitasi perundingan antar kepala suku. Perundingan itu dikenal dengan sebutan Togorebo.

Tempat perundingan disepakati dilakukan di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang. Kepala suku yang berhasil tiba lebih dulu di tempat perundingan akan ditetapkan sebagai pemenang sekaligus memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa yang datang pertama. Namun kenyataan semua kepala suku tiba pada waktu yang bersamaan sehingga tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Syech Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore. Akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Konon, sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Thadore. Demikianlah, kata Tidore akhirnya menggantikan kata Kie Duko dan menjadi nama sebuah kerajaan besar.

Pusat Kerajaan Tidore sampai Raja Tidore ke-4 belum bisa dipastikan. Baru pada era Jou Kolano Bunga Mabunga Balibung, informasi mengenai pusat kerajaan Tidore sedikit terkuak. Namun itu masih dalam perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibunga. Para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan dimana sebenarnya Balibunga. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore, dan adapula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.

Baik.

Nama Rum yang disebutkan sebelumnya mengingatkan kami pada sebuah tempat di Belitung. Dalam peta Belitong tahun 1887 namanya disebut Batoe Roem (Batu Rum). Dalam Gedenkboek Billiton diperoleh keterangan bahwa Rum merupakan nama salah satu lokasi tambang di Distrik Buding yang dibuka pada tahun 1888.


Tokoh masyarakat Desa Air Batu Buding Arpandi mengatakan di kampungnya memang terdapat tempat yang dikenal dengan nama Rum. Namanya yakni Air Rum, sebuah sungai di Dusun Parit Gunong.

"Belum tahu juga apa arti Rum, lokasinya sekarang masuk dalam perkebunan kelapa sawit Rebinmas," kata Arpandi kepada petabelitung.com.

Hingga saat ini belum diketahui arti kata Rum. Kami juga belum menemukan arti kata tersebut dalam budaya Tidore.

Penelusuran nama Rum kemudian membawa kami pada sejumlah tempat. Salah satu nama tempat yang menggunakan nama Rum adalah sebuah desa bernama Rum di Sedeh District, Qaen County, South Khorasan Province, Iran. Seperti yang diketahui, dulu wilayah ini juga bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Abbasiyah.

Dalam sebuah situs berbahasa Persia diperoleh informasi mengenai Desa Rum. Desa kuno ini terletak di kaki perbukitan. Matapencaharian penduduknya adalah berladang, berternak, dan membuat kerajinan tenun. Catatan abad ke-19 tentang kisah Perjalanan Mirza Khanlar Khan Etesam-ol-Molk- menunjukkan bahwa warga Rum merupakan orang yang baik dan berbicara dengan rasa hormat.

"Desa Rum memiliki sejarah yang panjang, dan banyaknya kuburan, kastil, ligamen, kincir angin dan sumber air, dan ekspresi para sejarawan semuanya membuktikan fakta ini," demikian kutipan diakhir profil Desa Rum dalam situs tersebut.



Setelah mendapatkan Desa Rum, kami mencoba menggunakan kata kunci lain yakni Beleton Iran. Hasilnya membawa kami pada sebuah nama desa yang ditulis: Baleton, Baliton, Beleton, Bəliton. Ke empat nama ini merupakan nama dari sebuah desa bernama Bəliton (Belitung, baca e seperti Becak ). Tapi desa ini bukan berada di Iran. Desa ini ternyata berada di Lankaran Rayon, Azerbaijan yang berbatasan dengan Iran bagian utara.

"Dalam bahasa Talysh “Beliton” berarti “tempat yang banyak pohon ek" demikian sebuah situs berbahasa Azerbaijan menerangkan.

Bahasa Talysh adalah dituturkan oleh Orang Talysh sebuah kelompok etnis Iran  yang berasal dari wilayah yang dibagi antara Azerbaijan dan Iran yang membentang di Kaukasus Selatan dan pantai barat daya dari Laut Kaspia. Mereka berbicara bahasa Talysh , salah satu bahasa Iran Barat Laut. Bahasa ini digunakan di wilayah utara provinsi Gilan dan Ardabil di Iran dan di bagian selatan Republik Azerbaijan. Talysh Utara (bagian di Republik Azerbaijan) secara historis dikenal sebagai Talish-i Gushtasbi.

Potret perempuan di Desa Bəliton


Potret pria di Desa Bəliton

Kesenian Bəliton.

Jalan Menuju Desa Beliton.


Wah, jadi panjang ya Guys! Penelusuran jalur rempah Belitung jadi melenceng ke mana-mana nih. Kita bahkan belum mengulas rempahnya sama sekali. Gimana nih. Mau lanjut apa enggak? 

Oke! Kita lanjut sedikit ya. Mengenai Rum, kami memperoleh sebuah informasi penting. Kami peroleh dari orangtua kami sendiri di KPSB Peta Belitung, Ardi Kusuma. Pada tahun 1997 Beliau merupakan salah satu operator alat berat (buldozer) yang membuka perkebunan kelapa sawit Rebinmas di Desa Air Batu Buding.

Ketika ditanya mengenai nama Rum, Beliau langsung bisa mengingatnya dengan jelas. Menurut Beliau, nama itu adalah nama dari sebuah Gunong (bukit) di Dusun Parit Gunong. Beliau ingat karena bukit itu adalah salah satu tempat yang di inklap. Artinya lokasi itu tidak boleh dibuka atau dirusak.

"Sebetulnya yang di inklap itu adalah bagian gurok (air terjun) di Gunong Rum, namanya Gurok Muntik, tempatnya memang angker," kata Ardi kepada petabelitung.com, Selasa (1/9/2020) malam.

Ardi tidak mengerti latar belakang pengamanan Gurok Muntik. Yang jelas, pengamanan wilayah itu merupakan pesan dari Dukun Kampong di Parit Gunong. Selama membuka areal Gunong Rum, Ardi mengaku tak melihat kejadian aneh. Namun ia bisa merasakan suasana angker di wilayah tersebut.

Ardi sering mendengar cerita warga mengenai lokasi tersebut. Menurutnya, ada istilah "Tebalik Mate" dimana seseorang tanpa sengaja seperti melihat ikan-ikan laut di Gurok Munti.

"Tinggi Gunong itu seperti Gunong Payong di Tanjungpandan, posisi guroknya lumayan tinggi sebab waktu duduk di alat (buldozer), Bapak harus mendongak untuk melihat gurok itu," kata Ardi.

Tak jauh dari Gunong Rum terdapat Gunong Kajang. Dulu ada cerita mistis yang dialami seorang warga pendatang yang menebang pohon dengan gergaji mesin. Setelah mata gergaji menembuh seluruh batang, ternyata pohonnya tidak roboh. Kemudian digunakanlah kapak untuk merebohkan pohon. Namun aneh, bekas potongan kapak di batang tersebut mengeluarkan cairan seperti darah.

"Tak lama setelah kejadian itu orangnya meninggal. Memang banyak cerita-cerita aneh di sekitar lokasi itu dulunya," kata Ardi.

Guys! Kalian masih ingat tentang Sarang Naning? Ya, bukit tak seberapa tinggi itu juga masih berada dalam satu kawasan yang sama.

Ardi tak mengenal nama Sarang Naning. Namun setelah dipandu menggunakan Google Street View, barulah Beliau bisa mengingat lokasi yang dimaksud.

"Di lokasi itu dulu kawan Bapak meninggal, kecelakaan kerja, alatnya ditimpa pohon," kata Ardi yang kemudian terdiam lama.

Nama bukit Sarang Naning dicatat dalam laporan eksplorasi Akkringa tahun 1859. Insinyur tambang berkebangsaan Belanda itu pernah tiba di sekitar bukit itu 161 tahun lalu. Kala itu warga lokal yang memandunya memberikan informasi mengenai latar hikayat Sarang Naning.

"Ada tradisi di antara penduduk daerah itu, di zaman kuno, permukiman dimulai oleh orang asing di sungai Batu, di ketinggian bukit Sarang Naning," tulis Akkringa.

"Dikatakan bahwa, selain dari pulau-pulau asing (Jawa), orang Cina dan Orang Poetie (Seperti Toewan) juga ada. Mereka mengarungi sungai Batu hingga ke bukit Sarang Naning dan untuk waktu yang lama pasti ada sebuah perahu terlihat di sana," lanjut Akkringa.

Terdapat mitos mengenai puncak bukit Sarang Naning. Mitos itu membuat Akkringa tak berani mengunjungi puncak bukit tersebut.

"Saya belum mengunjunginya. Tradisi mengatakan bahwa orang-orang pasti mati, sebagian besar, segera dan sisanya ketika mereka pergi. Beberapa pecahan tembikar juga saya lihat di puncak bukit Sarang Naning, masih ada dianggap dari sejak zaman dulu," ungkap Akkringa.

Laporan Akkringa tentang Sarang Naning.

Sekian dulu ya Guys tulisan tentang Penelusuran Jalur Rempah Belitung. Foto di atas hanyalah ilustrasi yang diambil dari postingan Azka's Azuar di grup Facebook Belitong Tempo Doeloe. Foto itu menggambarkan sepeda motor Suzuki a100 tahun 1966 dengan plat nomor BN 8538. Motor legendaris dengan gelar Suzuki Bijik Nangka ini telah menjajal banyak medan di Belitung, termasuk kebun-kebun lada milik masyarakat Belitong. Semoga bermanfaat.(*)

Penulis: Wahyu Kurniawan

Editor : Wahyu Kurniawan

Sumber: petabelitung.com