Video Of Day

ads

Selayang Pandang

Momentum Kembalinya Kejayaan Pandai Besi Belitong

PETABELITUNG.COM - Penemuan Keris Panjang Belitong tidak hanya penting bagi Pulau Belitung, tapi juga ikut memperkaya khasanah keris dunia. Keberadaan Keris Panjang merupakan petunjuk nyata tentang karya Pandai Besi Belitong pada zaman dulu. Bahkan lebih jauh lagi, keris ini menunjukkan bahwa Belitong sejak lama memegang peran yang sangat penting dalam perkembangan keris di Nusantara.

Identifikasi terhadap empat buah Keris Panjang di Museum Tanjungpandan menunjukkan bahwa keris tersebut memiliki pakem fisik. Keris Panjang memiliki bilah dan gagang lurus. Panjang bilahnya berkisar 40-65 cm, dengan panjang total sekitar 50-75 cm. Sedangkan lebar bilah 2 cm dan ganja 6 cm. Bobot total setiap keris juga hampir sama yakni 200 gram.

Menurut Gardner (1936), ada pendapat yang mengatakan bentuk Keris pada awalnya terinspirasi dari ekor ikan pari yang beracun. Maka itu kebanyakan ahli mengatakan bahwa bentuk keris itu awalnya lurus dan baru memiliki gelombang (lok) sekitar abad ke-15.

“Banyak pria yang lebih tua masih mengatakan bahwa bilah lurus adalah yang terbaik, dan tentu saja lebih banyak bilah yang dibuat lurus daripada bergelombang; itu adalah salah satu bilah yang digunakan,” kata Gardner.

Keterangan Gardner menunjukkan bahwa Keris Panjang Belitong mungkin saja telah berusia sangat tua. Sayang belum ada keterangan yang bisa memastikan sejak kapan keris tersebut pertama kali dibuat dan digunakan di Belitong. Namun yang jelas Belitong ternyata sejak lama telah memiliki peran penting dalam seni pembuatan keris Nusantara. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan Keris Berpamor. Gardner mengatakan, Keris Berpamor adalah keris yang bilahnya sudah rusak. Kata pamor berarti paduan atau campuran, dan menunjukkan bahwa besi tersebut bercampur dengan nikel sehingga meteorik.

“Tulisan Newbolt sekitar tahun 1800 mengatakan besi pamor, besi damaskus, dibawa dari Sulawesi dan Jawa dan dicampur dengan besi dari lingkaran tua, paku dan semacam besi dari Belitung, seperempat besi pamor sampai tiga perempat besi lainnya,” kata Gardner.

Keterangan mengenai campuran besi bisa diperoleh melalui Laporan penelitian Drs. Supriaswoto berjudul "Susunan Tiga Unsur Logam Dalam Satu Bilah Keris Jawa: Suatu Kajian Karakter dan Fungsi Terhadap Besi, Baja dan Nikel Sebagai Bahan Bilah Keris Jawa. Laporan yang diterbitkan di Yogyakarta tahun 1994 itu disebutkan bahwa besi tetap menjadi bahan yang sangat penting dan utama dalam pembuatan keris. Karena besi dipakai untuk keseluruahan badah bilah (awak-awak) keris. Menurut para ahli padhuwungan (ahli dalam bidang keris) baik dan buruknya besi dapat dideteksi melalui sifat-sifatnya seperti warrna, suara, bobot, dan sebagainya.

Supriaswoto mencontohkan besi yang tergolong baik salah satunya adalah Besi Karangkijang. Besi ini suaranya breng-ngeng-ngeng (seperti suara lebah yang sedang terbang bersama). Warnanya hijau seperti air laut, dan khasiatnya berani tetapi sabar.

Hasil penelitian tim dari Institut Seni Indonesia Surakarta tahun 2015 menyebutkan, Jenis besi tradisional yang dikenal di waktu lalu, hanya terdapat di manuskrip yang menyebutkan nama-nama jenis besi dalam istilah Jawa, antara lain: Katub, Werani, Tumbuk, Balitung, Welangi, Terate, Kamboja, Walulin, dan lain sebagainya. Namun demikian, jenis besi yang tertulis di manuskrip, teknologi pembuatan, serta asal-muasal bahan bakunya, tidak pernah diterangkan, sehingga saat ini pembuatan besi tradisional sangat sulit dipelajari.

“Pada umumnya bahan yang digunakan untuk membuat keris adalah besi balitung, besi purasani, dan besi panawang sebagai ganti pamor. Besi balitung ialah besi murni, berwarna hitam kecoklat-coklatan,” demikian kutipan dari buku berjudul Dinamika Kehidupan Religius Era Kasunanan Surakarta yang diterbitkan oleh Litbangdiklat Press (LD Press), sebuah sebuah lembaga penerbitan di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, 2017.

Karang Kijang dan Besi Balitung adalah dua jenis besi yang terdapat di Pulau Belitung. Hal ini sesuai seperti yang disebut oleh Gardner bahwa salah satu bahan pembuatan keris berpamor adalah “paku dan semacam besi dari Belitung”.

J.F. Loudon yang tiba di Belitung pada tahun 1851 mengatakan Orang Darat memiliki alat tukar yang disebut Paku Seratus, Paku Dua Ratus, dan Paku Tiga Ratus.

“Paku-paku ini ditempa sendiri oleh penduduk pribumi dari besi yang bagus dan kenyal serta banyak dikirim keluar,” kata Loudon.

Pada tahun 1759 pejabat VOC di Palembang bernama Jan de Heree membuat laporan tentang Karang Kijang ketika mengunjungi Tanjungpandan. Menurutnya, Karang Kijang adalah sebuah besi beracun dari karang di laut yang setahun sekali dihadiahkan kepada Sultan Palembang.

Cornelis de Groot menjelaskan, Karang Kijang adalah suatu tempat biji besi diambil dari kedalaman 3 sampai 4 vadem (1 vadem=1,88m), besi adalah racun mematikan untuk yang luka-luka, dan tidak ada izin memancing tanpa izin dari Raja.

Keberadaan besi bermutu tinggi  di Belitong tampak selaras dengan aktivitas pengolahannya. Cornelis de Groot mengatakan pada tahun 1870 hampir setiap kampung di Belitong terdapat seorang Pandai Besi.

“Barang yang diproduksi pandai pribumi terbatas pada: parang, kapak, beliung, serampang, tirok, tumbak, seruit, keris panjang, keris pendek, pisau raut, kantip, dan tumbuk lada,” kata Cornelis de Groot.

Ditemukannya fakta-fakta terbaru menganai khazanah keris Belitong pada tahun 2021 seolah menjadi momentum kembalinya kejayaan Pandai Besi Belitong. Sejumlah pemerhati bilah lokal kini mulai berbenah, tidak cukup hanya sekadar mengoleksi bilah, tapi mereka juga ingin menghidupkan kembali budaya metalurgi Belitong yang terkubur selama lebih dari satu abad lamanya.(*)

Penulis : Wahyu Kurniawan

Editor : Wahyu Kurniawan

Sumber: petabelitung.com

Foto : Pemerhati bilah Belitong, Achmed Viqie menunjukkan dua bilah Keris Panjang Belitong dalam sebuah penelitian koleksi yang diselenggarakan oleh UPT Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung, Jumat (22/1/2021). Wahyu Kurniawan/petabelitung.com.