Video Of Day

ads

Selayang Pandang

SMAN 1 Membalong Bedah Buku Karya Siswa di Acara Berapit Ketong 2


PETABELITUNG.COM - SMA Negeri 1 Membalong kembali mengadakan acara yang bertajuk Berapit Ketong 2 "Menggalorkan Budaye Belitong", Rabu (29/6/2022). Salah satu acara yang digelar adalah diskusi dan bedah buku berjudul 'Ragam Tumbuhan dan Cerite Kampong di Baliknya' karya Tim Literasi SMA N 1 Membalong.

Pembicara dalam acara ini antara lain Ketua DKB Belitung Iqbal Saputra, Litbang Pusat Studi Kebudayaan Belitung Marwan Hasan, Lembaga Adat Melayu Kecamatan Membalong Kik Sar'ie, Tim Dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas IPB dan Tim Penulis Buku SMA N 1 Membalong.

Kepala Sekolah SMA N 1 Membalong Nasir, S.Pd berharap buku kedua berjudul Ragam Tumbuhan dan Cerite Kampong de Baliknya yang disusun ini dapat turut andil dalam melestarikan budaya di Membalong khususnya dan budaya Belitong pada umumnya.

Salah seorang tim dosen dari IPB Nunik S menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada tim penulis yang terdiri dari siswa-siswi SMA N 1 Membalong serta kepada para pembimbing yang telah mewariskan pengetahuan mereka yang sangat berharga untuk dibukukan.

"Pemanfaatan tumbuhan harus dimulai dari daun baru terakhir keakarnya, ini mempunyai makna dan nasehat yang dalam. Pemanfaatan yang dimulai dari daun bertujuan untuk tidak menggangu keberlangsungan tanaman tersebut," ujarnya.

Dari buku ini Nunik mengakui baru belajar, mana tanaman asli Belitung dan mana tanaman yang berasal dari luar Belitung.

Kik Sar'ie dari LAM Kecamatan Membalong mengatakan,  sebetulnya terdapat 170 jenis ramuan herbal. Namun buku yang dirilis sekarang baru dapat memuat 40 di antaranya. Ia prihatin melihat masyarakat yang mulai menjauh dari ramuan herbal yang alami serta berbudaya lokal.

"Salah satu jenis obat luka adalah kulit kayu samak kering yang ditumbuk digunakan untuk mengobati luka terbuka terkena perkakas sehari-hari seperti parang atau kampak. Masyarakat dahulu mampu menghasilkan banyak keturunan dengan memanfaatkan herbal dari alam masih kuat bekerja di ladang. Kita harus sayangi dan jaga alam kita, baik itu darat laut dan udara. Serta harus mengenal keragaman hayati yang ada disekitar kita. Jangan coba untuk berpisah dari alam," kata Kik Sar'ie.

Marwan Hasan mengatakan, ada beragam pandangan untuk belajar dari alam. Naturalistik 1, buah yang dimakan kera atau burung artinya dapat dimakan juga oleh manusia. Naturalistik 2, cacing kepotong bisa membelah menjadi individu baru dijadikan obat anti tipes atau dalam acara nirok tanggok, jika mereka nombak ikan gabus dan lepas tetap hidup menjadi panduan untuk obat untuk mempercepat regenerasi dan mempercepat pemulihan.

Analogis,pasak bumi atau melawang yang mempunyai batang sebesar telunjuk namun akar sebesar betis dianggap dapat untuk obat kuat. Try n Eror, banyak jenis jamur yang dapat dikonsumsi di hutan Belitung, belajar dari kesalahan. Namun karena bukan budaya tulis, maka penyampaian pengetahuannya melalui pantun syair ataupun melalui nama kampung.

"Kami berdua bersama kik jer (sar'ie) adalah prov alias provokator. Etno sains menurut saya adalah bentuk pelestarian pengetahuan melalui beragam  budaya tutur (pantun, syair, nama kampung). Salah satu bentuk pengetahuan lokal disematkan dalam bagian sampiran pantun," kata Marwan.

"2018 dari keresahan kami kenapa pola pikir manusia modern mulai menjauh dari keterikatan dengan lingkungan sekitar ataupun budaya. Budaya mencatat telah ada sejak dahulu, contoh ada dalam serat centini yang berisi beragam pengobatan tradisional," tambah Iqbal Saputra.(*)

Penulis: Galih Prawira

Editor : Wahyu Kurniawan

Sumber: petabelitung.com