Video Of Day

ads

Selayang Pandang

Kisah Sawah Jepang di Gunong Banyau Desa Simpang Tige


PETABELITUNG.COM - Pada masa penjajahan tentara Jepang di pulau Belitung terdapat sawah-sawah yang dikembangkan oleh para pekerja paksa dari Belitung.
Salah satu sisa jejak peninggalan sawah romusha Jepang dan waduk airnya berada di tepian bukit Gunong Banyau di Dusun Aik Ruak Desa Simpang Tiga, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur.
Lokasinya tidak jauh dari bukit Gunong Apit yang akrab disebut Genting Apit oleh masyarakat di pulau Belitung.
Di sekitar gunung Banyau itu dulu sempat di bangun sekolah pertanian oleh tentara Jepang.
Namun sekolah tersebut tidak sempat dipergunakan karena Jepang kalah perang melawan Sekutu, dan pada akhirnya tentara Jepang pergi meninggalkan pulau Belitung,
Pada masa penjajahan tentara Jepang tersebut hanya sekolah pertanian yang ada di Desa Perepat Kecamatan Membalong Kabupaten Belitung yang pernah dibuka dengan murid yang lumayan banyak.
Mantan Kepala Desa Simpang Tige era 90-an Samiun Makruf menuturkan.
Penduduk yang dipaksa bekerja untuk membuat sawah adalah penduduk Desa Simpang Tige, Bangek dan Aik Ruak.
Selain dipaksa mengerjakan sawah, sebagian penduduk tersebut juga dibawa ke Desa Buluh Tumbang untuk membangun bandara.
Pada masa sekarang bandara tersebut bernama bandara internasional H.A.S. Hanandjoeddin.(*)


Foto 1:
Sawah yang dulu bekas sawah kerja rodi, sekarang sudah di olah dari masyrakat sekitar kurang lebih seluas 40 hektar, termasuk juga nara Sumber, Samiun Makruf ikut juga mengolah sawah tersebut kurang lebih 1 hektar.

Foto 2 (Hitam putih)
Pelaku sejarah benama Ibrahim (alm) beliau termasuk dalam kerja paksa membuat sawah rodi tersebut.

Foto 3 :
Samiun Makruf, berdomisili di dusun aik ruak desa Simpang tige kecamatan Simpang Renggiang Belitung Timur. Beliau mantan anggota DPRD kabupaten Belitung periode 1982-1987 dan juga pernah menjabat sebagai kepala Desa Simpang Tige, periode 1993-2001.



Penulis: Rico Pebrico
Editor: Wahyu Kurniawan
Sumber: facebook Rico Pebrico.